Pefindo Pertahankan Peringkat AAA Pelindo, Ini Kinerja Keuangannya

Pefindo Pertahankan Peringkat AAA Pelindo, Ini Kinerja Keuangannya

JAKARTA — PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mempertahankan peringkat idAAA untuk PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo dengan prospek stabil. Peringkat tertinggi tersebut juga diberikan kepada Obligasi I Pelindo IV Tahun 2018 Seri C senilai Rp800 miliar.

Berdasarkan pengumuman pemeringkatan, peringkat tersebut berlaku mulai 6 Oktober 2026 hingga 1 Oktober 2027. Keputusan ini diambil melalui rapat Komite Pemeringkatan Pefindo pada 6 Oktober 2026.

Penilaian tersebut didasarkan pada laporan keuangan audit Pelindo per 31 Desember 2025 serta laporan keuangan yang belum diaudit per 30 Juni 2026.

Pefindo menilai peringkat idAAA Pelindo mencerminkan peran strategis perusahaan bagi pemerintah, posisi pasar yang kuat di industri kepelabuhanan, serta pendapatan berulang atau recurring income yang stabil.

Meski demikian, profil kredit Pelindo masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Pefindo mencatat struktur permodalan dan indikator perlindungan arus kas (cash flow protection) perusahaan berada pada tingkat moderat.

Kinerja Keuangan Pelindo Semester I/2026

Kinerja keuangan Pelindo turut menjadi bagian penting dalam penilaian profil kredit perusahaan. Berdasarkan ikhtisar keuangan per 30 Juni 2026 yang belum diaudit, Pelindo membukukan pendapatan dan laba bersih dalam jumlah triliunan rupiah.

Berikut sejumlah indikator keuangan Pelindo hingga semester I/2026.

Pendapatan Pelindo Capai Rp18,51 Triliun

Pelindo mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp18,51 triliun hingga 30 Juni 2026. Angka tersebut setara dengan sekitar 50,4% dari pendapatan sepanjang 2025 yang mencapai Rp36,72 triliun.

Capaian tersebut menunjukkan pendapatan semester I/2026 telah mencapai sekitar separuh realisasi tahun sebelumnya. Namun, perbandingan ini belum menggambarkan pertumbuhan tahunan karena perlu dibandingkan dengan pendapatan semester I/2025.

Laba Bersih Pelindo Tembus Rp2,41 Triliun

Dari sisi profitabilitas, Pelindo membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,41 triliun per Juni 2026.

Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk merupakan bagian laba yang menjadi hak pemegang saham perusahaan induk setelah memperhitungkan kepentingan nonpengendali pada entitas anak.

EBITDA Margin Naik Menjadi 35,1%

Indikator operasional Pelindo juga menunjukkan margin EBITDA sebesar 35,1% pada Juni 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar 30,3%.

EBITDA merupakan laba sebelum memperhitungkan beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Sementara itu, EBITDA margin menunjukkan besarnya EBITDA dibandingkan pendapatan perusahaan.

Margin yang lebih tinggi dapat mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi dari setiap rupiah pendapatan. Meski demikian, indikator ini perlu dibaca bersama arus kas, kebutuhan investasi, dan beban utang perusahaan.

Total Aset Rp128,74 Triliun, Utang Disesuaikan Rp47,49 Triliun

Dari sisi neraca, total aset yang disesuaikan Pelindo tercatat sebesar Rp128,74 triliun. Sementara itu, total utang disesuaikan atau adjusted debt mencapai Rp47,49 triliun.

Rasio utang disesuaikan terhadap ekuitas (adjusted debt to equity) berada pada level 1,0 kali berdasarkan data pemeringkatan yang disampaikan.

Rasio tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk mengevaluasi struktur permodalan perusahaan. Namun, penilaian kemampuan membayar kewajiban juga perlu mempertimbangkan arus kas operasional, jatuh tempo utang, biaya pendanaan, dan kebutuhan belanja modal.

Pefindo Soroti Peran Strategis dan Posisi Pasar Pelindo

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa kepelabuhanan, Pelindo memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas logistik dan perdagangan Indonesia.

Peringkat idAAA mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi komitmen keuangan jangka panjang yang dinilai paling kuat dibandingkan entitas lain di Indonesia, berdasarkan skala pemeringkatan nasional Pefindo.

Prospek stabil menunjukkan bahwa Pefindo memperkirakan peringkat tersebut relatif terjaga dalam horizon penilaian yang ditetapkan, dengan mempertimbangkan kondisi dan asumsi yang mendasari pemeringkatan.

Meski demikian, peringkat kredit bukan jaminan bahwa perusahaan tidak akan mengalami tekanan keuangan. Perubahan kondisi bisnis, kebutuhan pendanaan, maupun dukungan pemegang saham dapat memengaruhi profil kredit di masa mendatang.

Struktur Kepemilikan Pelindo Setelah Merger

Pelindo merupakan hasil penggabungan empat operator pelabuhan BUMN, yakni Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III, dan Pelindo IV, yang efektif pada 1 Oktober 2021.

Integrasi tersebut diarahkan untuk menyatukan pengelolaan bisnis kepelabuhanan dan memperkuat efisiensi operasional. Kegiatan usaha Pelindo mencakup layanan petikemas, non-petikemas, dukungan fasilitas pelabuhan, serta marine, equipment, and port services (MEPS).

Dari sisi kepemilikan, struktur pemegang saham Pelindo juga mengalami perubahan seiring pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam data pemeringkatan, mayoritas saham Pelindo berada di bawah pengelolaan PT Danantara Asset Management (Persero). Sementara itu, pemerintah tetap memegang satu saham Seri A Dwiwarna yang memberikan hak khusus sesuai ketentuan yang berlaku.

Struktur tersebut menjadi bagian dari tata kelola kepemilikan BUMN setelah pembentukan Danantara. Untuk memastikan persentase kepemilikan dan status hukum terbaru, data pemegang saham perlu merujuk pada dokumen resmi perusahaan.

Risiko yang Bisa Menekan Peringkat Pelindo

Meski mempertahankan peringkat idAAA dengan prospek stabil, Pelindo tetap menghadapi sejumlah risiko yang dapat memengaruhi penilaian kreditnya.

Pefindo menyebut pelemahan signifikan dukungan pemerintah berpotensi memberikan tekanan terhadap peringkat perusahaan.

Selain itu, peningkatan utang di luar proyeksi untuk membiayai ekspansi atau belanja modal (capital expenditure/capex) juga dapat menjadi faktor risiko, terutama apabila tidak diimbangi peningkatan kemampuan menghasilkan arus kas.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah penurunan volume lalu lintas kargo dan petikemas secara material dan berkepanjangan. Pelemahan aktivitas tersebut dapat memengaruhi pendapatan, profitabilitas, serta kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, perkembangan kinerja operasional, struktur utang, arus kas, dan dukungan pemegang saham akan tetap menjadi aspek penting dalam pemantauan profil kredit Pelindo.

Peringkat idAAA yang dipertahankan hingga Oktober 2027 menunjukkan penilaian Pefindo terhadap kekuatan kredit Pelindo masih berada pada level tertinggi dalam skala nasional. Namun, keberlanjutan peringkat tersebut tetap bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga kinerja keuangan dan mengelola risiko bisnisnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index